Politik

Baikkah Forum Debat Pilkada Jabar? Memainkan Debat Sambil Promosi Kaos #2019GantiPresiden


Jawa Barat, dengan pasangan calon yang paling banyak beradu nasib di pilgub, menjadi sebuah tempat yang seharusnya mengejawantahkan keberagaman. Keempat pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat ini akan saling beradu gagasan dan argumentasi dengan tema yang sudah ditentukan yaitu ‘Menjawab Tantangan Pembangunan Berkelanjutan Untuk Kesejahteraan Rakyat Jawa Barat’-. Acara ini diharapkan dapat menjadi wadah dan sarana yang tepat untuk memaparkan visi misi keempat pasangan ini kepada masyarakat luas pada umumnya, bagi warga Jawa Barat pada khususnya.

Akan tetapi dua orang bernama Sudrajat dan Syaikhu ini, malah mempromosikan kaos yang sering digenjar-genjarkan oleh kelompok tertentu yang akhirnya membuat ricuh keberagaman dengan cara yang tidak elegan. Kedua orang ini mendadak terdiam, dan senyumannya terkunci karena kegaduhan yang mereka buat sendiri. Ini adalah senjata bumerang yang benar-benar telak menghantam kedua wajah mereka.

Sudrajat, kader Gerindra calon gubernur Jawa Barat ini. Dalam debat pemilihan gubernur, melalui closing statement, Sudrajat mengatakan bahwa kalau nomor tiga menang, maka 2019 ganti presiden. Ini adalah sebuah statement konyol yang menyulut emosi dan kericuhan. Sebuah upaya harakiri politik, mengapa harakiri politik? Karena apa yang menjadi statement penutupnya, sangat tidak berdasar. Di mana logikanya pilgub bisa ditarik-tarik ke pilpres? Apakah Jabar akan dijadikan tempat dan basis massa untuk menolak presiden? Apa yang akan dibuat oleh Sudrajat dan Syaikhu jika mereka benar-benar menjadi gubernur? Akankah agendanya untuk Jawa Barat, atau memikirkan urusan ganti presiden. Agenda mereka tentu akan terdistorsi oleh kepentingan politik.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pasangan Sudrajat-Syaikhu sampai melakukan hal tidak etis tersebut. Berikut beberapa kemungkinannya:

Pertama, ini murni karena ketidaktahuan dari paslon Sudrajat-Syaikhu. Keduanya tidak paham apakah tindakannya itu etis atau tidak, melanggar atau tidak. Mereka hanya paham bahwa mereka sedang tampil di TV dan ditonton jutaan pemirsa. Merasa bagian dari Gerindra dan PKS, keduanya merasa perlu untuk ikut mengampanyekan misi terbesar dari Gerindra dan PKS, yaitu mengalahkan Jokowi di Pilpres. Mereka merasa perlu berterima kasih kepada Gerindra dan PKS yang telah mengusungnya sebagai cagub dan cawagub. Karena ketidakpahaman keduanya, mereka melakukan tindakan yang tidak etis, membuat emosi penonton, dan terancam melakukan pelanggaran kampanye.

Blunder ini seharusnya tidak terjadi, jika mereka ingin menang. Alhasil, semua pendukung akhirnya antipati dengan pasangan ini. Tindakan yang dikerjakan oleh kader Gerindra dan PKS ini benar-benar semakin membuat mereka rusak. Elektabilitas mereka dikhawatirkan akan turun, karena agenda mereka bukan membangun Jawa Barat, melainkan mengganti presiden. Indonesia tidak membutuhkan sosok yang bisa mengganti presiden. Indonesia butuh sosok yang benar-benar sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Indonesia benar-benar tidak membutuhkan sosok arogan yang haus kekuasaan seperti ini. Indonesia butuh pemimpin yang mengayomi warga, bukan malah merongrong pemerintahan yang sah! Warga Jawa Barat harus cerdas. Jangan sampai kursi-kursi penting di dalam pemerintahan, diisi oleh orang-orang yang memiliki motivasi buruk. Sudah tepat apa yang kalian lakukan, adalah melakukan bunuh diri politik!

sumber : kumparan



Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top
TERHANGAT
close